Arsitektur Tradisional Batak Toba
Sebelum
mendirikan
bangunan diadakan upacara mangunsong bunti, yaitu upacara memohon kepada Tri-tunggal Dewa (Mula Jadi Nabolon, Silaon Nabolon, dan Mengalabulan). Peserta upacara melipud Datu Ari (dukum), Raja Perhata (ahli hukum adat), Raja Huta (kepala desa) dan Dalihan Natolu (raja ni hula-hula, dongan tubu dan boru). Waktu mendirikan bangunan diadakan upacara paraik tiang dan paraik urur (memasang tiang dan urur). Setelah bangunan selesai diadakan 2 upacara,
yakni:
mangompoi
jabu (memasuki rumah baru) dan pamestahon jabu (pesta perhelatan rumah baru).
Gambar 11 Tempat upacara
Sumber: Soeroto (2003: 103)
Gambar 12 Ragam hias pada
beranda Roma Bolon Raja Simanindo
Sumber: Soeroto (2003: 106)
Beranda Ruma Bolon Raja Simanindo merupakan tempat raja menyampaikan perintah atau menyaksikan pagelaran seni dan upacara adat
Ragam hias (gorga) pada bangunan Batak Toba banya mengenal 3 warna, yaitu merah, putih dan hitam yang dibuat dari bahan alam. Setiap hiasan dan ukiran mengandung makna yang melambangkan kepercayaan bersifat magis religius. Pemasangan ragam hias juga harus mengikuti aturan adat yang berlaku. Bentuk dan corak ragam hiasnya banyak mengambil bentuk dari alam semesta, flora, dan fauna. Hiasan dari alam, di antaranya at matani ari (matahari) dan desa ni ualu (8 mata angin). Hiasan berasal dari flora, antara lain simeol-eol, sitompi, sitangan, iran-iran, hariara sudung ni langit. Sedang hiasan berasal dari fauna, yaitu hoda-hoda (kuda), boraspati (cecak besar), sijonggi, dan gajah dompak. Ada juga hiasan geometris, seperti silintong (garis-garis) dan ipon-ipon.
ARSITEKTUR NUSANTARA
8
Arsitektur Tradisional Batak Toba
ARSITEKTUR NUSANTARA
9
Gambar 13 Detail ukiran pada balok utama, papan
lis atap dan papan beranda
Sumber: Soeroto (2003: 106)
Makna dan Simbolisme
Pada
hiasan
runmah
tradisional Batak Toba, merupakan desain bentuk dari binatang dan tumbuhan. Pewarnaan yang digunakanpun hanya menggunakan tiga warna, yaitu hitam, merah dan putih. Hal ini merupakan warna dsar yang dapat ditemukan dari alam.
Selain bentuk tumbuhan dan binatang, terdapat juga hiasan geometris, baik garus lurus maupun lengkung. Adapun bentukan garis lengkung merupakan hiasan yang memiliki nilai historis yang sangat tinggi, karena hal tersebut dapat ditemukan pula pada arsitektur kalimantan dan sulawesi.
Selain bentuk ruma secara individu, keberadaan tempat upacara juga merupakan slaha satu pelengkap bagi keberadaan lumban. Hal ini merupakan salah satu bangunan yang memiliki nilai yang tidak kalah pentingnya dengan keberadaan ruma dan sopo sebagai inti dari keberadaan lumban.
Penafsiran
Hiasan yang digunakan pada arsitektur tradisional Batak Toba merupakan seni ukir dan lukis. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan merupakan salah satu hal yang sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia.
Selain keindahan, hiasan yang ada pada rumah tradisional Batak Toba juga memiliki nilai yang sangat penting dalam menentukan jati diri penghuni ruma. Oleh karena itu, selain bentuk ruma, hiasan juga merupakan suatu kebanggan dan penghargaan yang diberikan untuk menunjukkan penghuni ruma.
Dengan adanya hiasan pada rumaha tradisional Batak Toba, hal tersebut dapat digunakan sebagai nilai spesifik yang dimiliki oleh suatu ruma sebagai bangunan personal, bukan sekedar bangunan tradisional. Misalnya rumah raja memiliki ragam dan bentuk hiasan yang berbeda dengan rumah tradisional pada umumnya. Hal ini menunjukkan bahwa hiasan atau nilai keindahan menjadi sesuatu yang sangat penting dan sifatnya sakral.
Arsitektur Tradisional Batak Toba